Pendahuluan
Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar di dunia. Panjangnya bisa mencapai lebih dari 12 meter dan beratnya mencapai 20 ton.
Hiu paus dikenal sebagai spesies yang sangat migran. Namun, hiu paus telah terlihat di Teluk Cenderawasih, taman laut terbesar di Indonesia, sepanjang tahun.
Hiu paus saat ini terdaftar dalam Lampiran II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES). Hiu paus juga terdaftar sebagai “terancam punah” dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) karena karakteristik biologisnya yang spesifik, seperti siklus pertumbuhan yang lambat dan tingkat kesuburan yang rendah; serta penurunan populasi yang terus berlanjut di seluruh dunia, menurut penilaian komprehensif pada tahun 2017. Hiu rentan terhadap eksploitasi karena diburu untuk diambil daging, sirip, dan minyak hatinya.
Sejak tahun 2013, hiu paus telah menjadi spesies yang dilindungi di Indonesia. Negara ini juga menyadari potensi ekonomi yang tinggi yang dapat diberikan kepada masyarakat melalui pariwisata. Dengan melindungi spesies ini, pemerintah memastikan nilai ekonomi di masa depan dari pengembangan pariwisata berbasis hiu paus.
Magnet bagi Wisatawan
Beberapa spesies hiu menjadi daya tarik wisata di Teluk Cenderawasih, yang terletak di antara Provinsi Papua Utara dan Papua Barat di Indonesia. Namun, hiu pauslah yang kini menjadi daya tarik utama di beberapa wilayah di negara ini, tidak hanya di Teluk Cenderawasih. Hiu paus tidak berbahaya, anggun, dan menakjubkan, serta memberikan nilai tinggi bagi industri pariwisata yang sedang berkembang pesat. Spesies ini menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional, dan jika dikelola dengan bijak, dapat memberikan perekonomian yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Sejak ditemukannya populasi hiu paus pada tahun 2006, jumlah pengunjung ke Teluk Cenderawasih terus meningkat.
Sejak tahun 2006, di Kawasan Laut Kepala Burung di Papua Barat, para pemangku kepentingan telah bekerja sama dengan Conservation International Indonesia, pemerintah daerah Raja Ampat dan Kaimana, Badan Pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), unit pelaksana teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Universitas Papua, para pemimpin desa dan adat, serta masyarakat setempat untuk membangun dan mengelola jaringan kawasan lindung laut secara efektif. Pada tahun 2013, program konservasi hiu dan pari diluncurkan sebagai pengakuan atas peran krusial mereka dalam menjaga ekosistem laut yang sehat.
Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini, pola perilaku hiu paus harus dipelajari guna mengoptimalkan upaya pengelolaan, penegakan hukum, dan sosialisasi untuk melindungi mereka. Data ilmiah dan teknologi dapat membantu pengambilan keputusan serta perencanaan konservasi dan pariwisata berkelanjutan.
Namun, para ilmuwan kesulitan memasang tag elektronik pada hiu putih untuk melacaknya dalam jangka waktu yang lama. Metode penandaan konvensional yang digunakan oleh ilmuwan di belahan dunia lain tidak efektif di Cenderawasih, di mana hiu sering berinteraksi dengan bagan (jaring angkat) setiap hari. Ada kemungkinan besar tag tersebut akan tersangkut pada jaring dan tali pancing. Akibatnya, hanya butuh waktu 1 hingga 2 minggu sebelum tag tersebut terlepas lebih awal dari tubuh hiu. Waktu ini terlalu singkat untuk mendokumentasikan perilaku penting hiu paus.
Pada tahun 2015, Otoritas Taman Nasional Teluk Cenderawasih memulai program penandaan satelit hiu paus yang komprehensif bersama Conservation International Indonesia. Program ini mendapat manfaat dari informasi yang diberikan oleh para nelayan bagan. Mereka melaporkan bahwa hiu paus sering terjaring secara tidak sengaja di jaring-jaring tersebut pada jam-jam sebelum fajar saat mereka memakan umpan ikan. Setelah tertangkap, hiu-hiu tersebut bersikap jinak. Dengan informasi ini, tim menyadari bahwa mereka memiliki cukup waktu untuk masuk ke dalam jaring dan memasang tag satelit yang dirancang khusus dan dipasang pada sirip, yang dapat melacak hiu tersebut hingga 2 tahun.
Sekitar 33 hiu paus telah diberi penanda di Teluk Cenderawasih. Penanda satelit dipasang pada sirip punggung menggunakan metode penandaan inovatif yang pertama kali diterapkan di teluk tersebut, yang memanfaatkan interaksi unik antara hiu paus dan platform penangkapan ikan bagan di kawasan tersebut.
Sejak 2015, tim telah mengumpulkan informasi biologis dan perilaku baru. Salah satu dokumentasi menunjukkan beberapa hiu paus yang melakukan migrasi tahunan ke wilayah yang sama. Informasi ini sangat penting untuk merancang pengelolaan pariwisata hiu paus di teluk tersebut.
Pelacakan pergerakan hiu paus juga menegaskan bahwa Teluk Cenderawasih merupakan salah satu dari sedikit tempat di Bumi yang memungkinkan penampakan hiu paus sepanjang tahun. Fenomena langka ini mendorong Taman Nasional untuk meluncurkan proyek Pusat Hiu Paus. Pusat ini akan berfokus pada pengembangan pariwisata berbasis hiu paus di wilayah tersebut melalui kombinasi konservasi, ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kearifan lokal masyarakat Papua.
Praktik Terbaik
Teluk Cenderawasih menawarkan pelajaran dan praktik terbaik berikut dari model pariwisata hiu pausnya.
Jadikan konservasi sebagai inti dari operasional. Untuk mata pencaharian berbasis alam apa pun, konservasi dan keberlanjutan harus menjadi prioritas. Hiu paus membutuhkan habitat yang sehat.
Salah satu langkah konservasi adalah menciptakan kawasan lindung laut yang dikelola secara efektif, yang dapat menjadi cetak biru spasial bagi kegiatan pariwisata. Hal ini dapat membantu mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dari para pemangku kepentingan dan mengatur bagaimana berbagai kegiatan harus saling berinteraksi untuk menjaga kesehatan laut.
Terapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemahaman yang lebih baik tentang hiu paus di Teluk Cenderawasih, terutama informasi yang diperoleh dari program penandaan satelit, terbukti sangat penting dalam merancang pengelolaan pariwisata hiu paus di wilayah tersebut. Hal ini telah memengaruhi keputusan terkait pariwisata hiu paus yang berkelanjutan dan upaya pelestariannya.
Pastikan kelayakan ekonomi. Menjadikan pariwisata hiu paus layak secara ekonomi membantu mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat. Dari perspektif konservasi, pariwisata menyediakan mata pencaharian yang sah, berkelanjutan, dan menguntungkan bagi masyarakat sebagai pengganti perburuan liar dan kegiatan ilegal lainnya.
Model bisnis tersebut tidak hanya harus memberikan pendapatan yang memadai bagi masyarakat, tetapi juga menghasilkan dana—mungkin melalui pajak atau penjualan tiket—untuk mendukung upaya konservasi di kawasan tersebut. Penting untuk memastikan transparansi dan penyaluran dana yang lancar guna mendukung pekerjaan konservasi yang sedang berlangsung.
Libatkan masyarakat. Semua proyek dan program konservasi yang berhasil di Indonesia memiliki satu kesamaan: keterlibatan aktif masyarakat mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Hal ini memastikan bahwa proyek atau program konservasi disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masyarakat dan diterima oleh masyarakat.
Sebagai mitra masyarakat, pemerintah dan/atau organisasi nonpemerintah harus membangun kapasitas masyarakat agar model pariwisata ini dapat berjalan secara efektif.
Bangun kemitraan. Beban kerja yang berat akan terasa lebih ringan jika dibagi bersama. Untuk model pariwisata hiu paus ini, sangatlah penting untuk memetakan semua pemangku kepentingan, yang meliputi pemerintah pusat (kementerian teknis, seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata); pemerintah daerah (instansi pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa); operator pariwisata (resor, kapal pesiar, homestay, operator pariwisata lainnya); badan adat atau adat istiadat tradisional (dewan adat, pemimpin adat); serta masyarakat setempat. Setiap pemangku kepentingan mendukung inisiatif ini sesuai dengan kapasitas dan tugas masing-masing. Aspek kunci dari kemitraan ini adalah terlebih dahulu menyadari kekuatan dan keterbatasan masing-masing pihak, kemudian memastikan komunikasi dan koordinasi yang baik di antara para pihak.
Menetapkan kode etik. Pariwisata berbasis alam, terutama yang melibatkan spesies yang terancam punah, harus ditangani dengan sangat hati-hati. Kode etik pariwisata hiu paus akan memastikan bahwa semua kegiatan pariwisata tidak akan menimbulkan ancaman apa pun terhadap kesejahteraan hiu paus dan meminimalkan dampak lingkungan.
Aspek-aspek penting yang harus dikelola secara ketat meliputi:
menetapkan jumlah maksimum wisatawan untuk setiap interaksi,
hanya mengizinkan satu operator di setiap bagan jika interaksi dilakukan di dalam bagan,
membatasi interaksi dengan hiu (tidak boleh menyentuh, menjaga jarak aman, dll.), dan
menetapkan prosedur bagi wisatawan dan operator (izin, pembayaran interaksi, dll.).
Tingkatkan kesadaran masyarakat dan tegakkan aturan. Pada akhirnya, seberapa baik pun kode etik dirancang, tetaplah tergantung pada wisatawan atau operator untuk mematuhi peraturan tersebut. Hal ini dapat dipastikan melalui patroli rutin serta penegakan yang tegas dan tidak memihak oleh badan pengelola pariwisata atau pejabat terkait lainnya.
Semua aturan di Teluk Cenderawasih dirancang agar kegiatan pariwisata dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, sekaligus memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak menimbulkan ancaman apa pun bagi hiu paus dan lingkungan. Untuk menjaga keberlanjutan model ini, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran wisatawan dan operator mengenai pentingnya mematuhi kode etik, baik demi kesejahteraan hiu paus maupun untuk mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi lokal.
Artikel ini diadaptasi dari studi kasus yang disusun oleh Otoritas Pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Conservation International Indonesia, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
